Thursday, 13 August 2015

BOK Rate Tidak berubah, Proyeksi PDB Korsel Diturunkan


Paska pemangkasan outlook pertumbuhan ekonomi Korea Selatan oleh Bank sentral Korea Selatan (BOK) pada Juli lalu, hari Kamis ini (13/8) BOK kembali memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan rendahnya yang tercatat sebesar 1,5 persen dan memperkirakan laju inflasi konsumen akan naik sebesar 0.9% pada tahun ini, tidak berubah dari proyeksi sebelumnya, dengan terget inflasi tetap sebesar 2-3 persen pada jangka menengah.
Pemangkasan outlook oleh BOK pada bulan lalu terjadi seiring dengan terpukulnya perekonomian Korsel oleh kasus virus MERS yang telah menekan tingkat belanja konsumen domestik di tengah lemahnya tingkat ekspor akibat pelemahan ekonomi global. Dalam revisi outlooknya, BOK memperkirakan laju pertumbuhan domestik bruto (PDB) Korsel pada tahun 2015 ini hanya akan mencatat pertumbuhan sebesar 2.8% di tahun 2015, lebih rendah dari estimasi yang telah dibuat sebelumnya di bulan April yaitu sebesar 3.1%. Sebagai informasi, perekonomian Korsel berhasil mencatat pertumbuhan sebesar 3.3% pada tahun 2014 lalu.
Menurut pernyataan BOK, laju konsumsi telah turun cukup signifikan dan sentimen perekonomian telah memburuk menyusul terjangkitnya MERS di Korsel sementara aktivitas ekspor yang mesin penggerak pertumbuhan utama negara ini terus mencetak penurunan. MERS, yang telah menelan korban setidaknya 35 orang di Korsel semenjak pertama kali terjangkit di bulan Mei, telah mengikis penjualan ritel dan sektor pariwisata seiring konsumen memilih untuk tinggal di rumah dan membatalkan untuk berpergian untuk menghindari kemungkinan terinfeksi.
Sejauh ini aktivitas ekspor Korsel yang selama ini berkontribusi paling besar terhadap PDB telah membukukan penurunan hingga 1.8% dari tahun sebelumnya di bulan Juni lalu. Bahkan pada awal Juni lalu, ekspor negara ini telah jatuh ke tingkat terburuknya dalam kurun enam tahun terakhir. Dengan demikian, penurunan kinerja ekspor negara ini telah genap memasuki bulan ke-6 nya berturut-turut akibat perlambatan ekonomi di Tiongkok dan rapuhnya pemulihan di Eropa.