Harga saham di berbagai bursa saham Asia jatuh untuk hari ketiga
secara berturut-turut karena lemahnya data manufaktur Tiongkok, AS dan
Eropa yang menimbulkan ketakutan melambatnya perekonomian dunia, namun
harga saham perusahaan-perusahaan Jepang berdenominasi yen tak
terpengaruh karena menjadi alternatif penyelamatan modal. Indeks patokan
Asia Pasifik di luar Jepang, MSCI, menyusut 1,2 persen pada sesi
menjelang siang sehingga dalam pekan ini sudah tergerus 4 persen karena
para investor mencampakkan saham-saham dari pasar ekonomi berkembang.
Indeks saham berjangka AS, S&P e-mini, naik 0,7 persen yang menandakan investor berada dalam posisi menunggu setelah Wall Street amblas tiga persen. “Ini adalah krisis pasar berkembang 2015,” kata Dominic Rossi dari Fidelity Worldwide Management yang mengelola asset 290 miliar dolar AS di seluruh dunia. Di Tiongkok, indeks CSI300 anjlok 2,4 persen ke posisi 3.281,92 poin, sedangkan indeks Shanghai terpangkas 2,5 persen ke posisi 3.088,82 poin.
Indeks saham berjangka AS, S&P e-mini, naik 0,7 persen yang menandakan investor berada dalam posisi menunggu setelah Wall Street amblas tiga persen. “Ini adalah krisis pasar berkembang 2015,” kata Dominic Rossi dari Fidelity Worldwide Management yang mengelola asset 290 miliar dolar AS di seluruh dunia. Di Tiongkok, indeks CSI300 anjlok 2,4 persen ke posisi 3.281,92 poin, sedangkan indeks Shanghai terpangkas 2,5 persen ke posisi 3.088,82 poin.







