Wednesday, 15 November 2017

Analisa Gold 15 November 2017

Pada perdagangan Rabu ini kondisi dolar AS atau greenback sepertinya masih ingin untuk meraih sisi positif terhadap mata uang utama dunia lainnya serta emas, apalagi masih kuatnya beberapa fundamental ekonomi AS di beberapa hari lalu dan ke depan dimana dukungan membaiknya inflasi konsumen AS akan terlihat mendorong kenaikan suku bunga The Fed akhir tahun ini dan pertengahan kuartal pertama tahun depan.
Seperti kita ketahui munculnya usaha penggeseran PM May di Inggris serta diundurnya pula jadwal pelaksanaan reformasi pajak AS hingga tahun depan serta membaiknya inflasi produsen AS, masih belum membuat greenback memberikan tekanan yang sempurna kepada mata uang utama dunia lainnya kecuali emas, sehingga hal ini mengakibatkan EUR/USD ditutup menguat di level 1,1796, GBP/USD ditutup menguat di level 1,3164, AUD/USD ditutup menguat di level 0,7628 dan USD/JPY ditutup melemah di level 113,45. Sekaligus membuat harga emas kontrak Desember di bursa berjangka New York Mercantile Exchange divisi Comex ditutup menguat $1,90 atau 0,15% di level $1280,80 per troy ounce.
Tren pergerakan dolar AS semalam memang menjadi antiklimaks yang negatif bagi mata uang AS tersebut, dimana investor memang sangat menantikan data inflasi konsumen AS yang akan rilis nanti malam.
Beberapa perhitungan yang dapat kami ungkapkan bahwa inflasi konsumen atau CPI kali ini menurut tim riset FS88 bahwa ada kenaikan inflasi yang terlihat memang belum sempurna karena ketika data inflasi ini dikoleksi, kondisi harga minyak belum mencapai puncaknya yaitu di level tertinggi sejak pertengahan 2015 lalu.
Merujuk pula data inflasi produsen semalam yang mencetak rekor tertingginya sejak awal 2012, kali ini inflasi produsen diperkirakan juga akan naik sekitar 0,05% hingga 0,75% saja karena komponen biaya tetap yaitu minyak belum terlalu berpengaruh.
Sehingga kami yakin bahwa kondisi inflasi bulan lalu dan yang akan mendatang mempunyai angka yang lebih tinggi sehingga ini pula yang dapat mendorong kenaikan suku bunga di Desember dan diperkirakan pula setidaknya sekali lagi di Februari tahun depan.
Selain itu nanti malam juga ada data penjualan eceran atau retail sales AS, yang diperkirakan akan alami penurunan. Data yang merupakan perwujudan 2/3 laju PDB AS ini tampaknya tidak terlalu digubris pemirsa karena investor kuatir terhadap data inflasinya. Padahal jika data retail sales ini jeblok, maka laju pertumbuhan ekonomi alias PDB ini juga akan meredup, dan produsen pun berpikir ulang untuk menambah belanja investasinya alias menambah kuantitas produksinya dan pada akhirnya juga terjadi penurunan harga alias laju inflasi juga akan tertahan pula.
Bila data keduanya berseberangan hasilnya, tetap saja dolar AS tertekan, namun jika sama-sama menguat, barulah akhir perdagangan hari ini akan memaniskan greenback.
Selain itu data tenaga kerja Inggris akan menjadi panutan bagi mata uang Inggris, apakah masih mampu menguat kembali di tengah ancaman dilengserkannya PM May ataukah berbalik melemah tajam karena ekonominya suram.
sumber : ForexSignal88.com

0 komentar:

Post a Comment